Thursday, July 11, 2013

Tersapa April Silam(ku)

( Maybe that was true and i couldnt pass it. Sorry)

Kukira hatiku pulih.. kukira akhirnya aku bisa menapaki kesendirian dengan kesempurnaannya, kukira otak ini sedang rehat dari kaum adam..ku kira hatiku sudah bergelar kebal ketika namamu terucap. Ternyata benar semua bisa kutapaki dengan indahnya, kutapi semua kesendirian dengan hati yang akhirnya menemukan arti kata lepas dan tak terbelenggu yang sesungguhnya. Aku baik, teramat baik malah hingga rasanya cinta Sang Penciptapun sudah lebih dari cukup untuk menemani setiap tapak kaki pemilik nomor kaki empat puluh ini. Kukira akan berjangka panjang..nyatanya semua lenyap, menguap terbuyarkan dengan apa? Satu deret kalimat tak bermakna dari pemilik nama ini. April itu sebutanku untukmu..

Bagaimana bisa empat kombinasi abjad itu mempengaruhi hipotalamusku? Masih memiliki cukup amunisi untuk menjadi sejumput penyebab hormon adrenalku dan sekarang menjadi dalang dari reaksi H2 dan O2 di tabir kristal kehidupanku. Bagaimana bisa serentetan kombinasi kata bisa membuatku kembali terjelembab pada belenggu yang baru saja berhasil ku tapaki arti bebasnya selama satu bulan, setelah perjuangan tak berbelas hampir 2/3 dari masa abu-abuku. Bagaimana bisa sepuluh detik itu menghambat laju gravitasi di peredaranku menyumbat semua pembuluh darah hingga dipaksanya tanda kehidupanku berpacu seakan lima menit lagi dia takan lagi berdegup dengan irama yang sama. Lima menit lagi dia akan menjadi boneka dengan kebisuan yang mencekam. Bagaimana bisa kau rubuhkan benteng yang ku buat dengan mempertaruhkan alam sadarku ini dengan hentakan pengukiran namamu di peredaranku ini...

Mengapa harus kembali April? Jika rasanya kau sudah jelajahi dunia in dengan eloknya dengan pendampingmu kini? Mengapa harus datang? Saat kedatanganmu berarti pengaktifan asam klorida di benteng besiku? Kau lahap habis.. ciptakan bara panas yang akan berbekas (lagi) di atmosferku kini. Ferrum takan pernah bisa taklukan klorida sampai kapanpun. Eksoterm adalah sifat utamamu kau belum berubah nampaknya.

April, aku masih bisa mengendus aroma kebahagiaan tepatnya sebelum pukul 16.52 hari ini. Masih bisa dengan selarasnya koordinasi dan efektorku berlagak dengan eloknya. Walau terkadang aku bak tangga nada.. penghasil gelombang longitudinal atau suara. Aku memang bukan Alto terlebih Sopran. Bahkan untuk menjadi do bertitik dua dibawahnyapun aku tak mampu. Tapi aku sang tangga nada penyokong semua kombinasi bunyi agar tetap mengalun dengan merdunya. Aku tak mengalun tapi aku konstan tetap dan terjaga di tempatnya tanpa gangguan sedikitpun dan yang terpenting adalah tak ada butiran garam yang tertaburkan di hati yang sudah di tambali disana-sini. Sekarang harus kulontarkan setidaknya aku pernah baik-baik saja. Harus ku syukuri itu.

Dan tepat setelah jarum jam menyapa 16.53 aku goyah, gravitasiku tak terkendali aku terhempas ke galaksi lain.. galaksi dimana bernapas adalah pekerjaan tersulit yang bisa ku kerjakan. Apa kau ingin tahu bagaimana dengan keingin tahuanmu aku mengaduh? Layaknya bioskop, aku tidak perlu menebak adegan selanjutnya dalam film, tak perlu menabak apa yang akan dilakukan sang pemeran utama atau dialog apa yang akan terlontar karena dengan sendirinya mereka akan menyajikannya untukku jelas, terperinci dan dengan detail tingkat tinggi dan kumpulan adegan itu adalah masa lalu aku dan kau April. Masa lalu yang sudah ku tutup rapat-rapat dalam boks yang hanya bisa dibuka kembali digetarkan eksistensinya oleh aku.

 Hingga kini cita-cita aku dan kau ternyata masih tetap sama. Bedanya aku sudah mencapai gerbang gajah duduk dan kau berceloteh akan memasuki gerbang itu juga. Oh Pencipta apa ini garismu untukku? Garis yang rasanya semakin menipis hingga memastikan keberadaannyapun aku harus setengah hidup berjuang bersama sistem inderaku. Tak henti sampai disitu peredaranmu menciduk kunci boks kepunyaanmu dan memamerkannya di depan retina yang sudah mati-matian menolak merekam segala detail bayangan yang kau sodorkan dengan nyata tanpa sedikitpun berilusi. Kau pacu Long Term Memory-ku dengan binaural sound-mu. Sungguh berkuasa sekali dirimu atas semua keterpurukan yang kuhirup mulai saat ini.

Aku kembali.. kembali pada masa dimana diagram venn kita saling beririsan, irisan yang membuat sebagianku tertambat pada lingkaran sempurna diagrammu dan sampai saat ini rasanya irisanku belum berniat pulang.. Hai irisanku, cepatlah pulang sempurnakan aku.. atau kau masih merasa nyaman ditempat sana hingga tak pedulikan sebagaimana jeritan aku mengaduh. Tolong April, pelankan frekuensimu.. jangan buat telingaku memekak karena frekuensimu yang jauh dari kata ambang batas jangan biarkan inderaku mengaduh apa hatiku saja tidak cukup untuk kau kacaukan semua impuls dan koordinasi bahkan pasokan oksigennya? Kau sudah disana dan aku disini, kau disana bersamanya dan aku setia dengan kesendirianku. Aku bahagia April saat melihat kau bahagia disana.. aku hanya ingin kau terus bahagia dalam asa dan ku harap kau takan pernah berkenalan dengan dia si sepi. Sesederhana itu.. Merelakanmu adalah keterbatasan yang belum bisa kurengkuh keberadaannya, tapi aku sudah mati-matian mencoba menyapanya hingga ku korbankan kristal-kristal aquos dari penglihatanku ini. Aku sungguh paham bagaimana mengikhlaskan.. tapi tolong bantu aku untuk menapakinya. Jika kau sekarang berbalik, kau tau jauh dibelakang pundakmu ada aku yang tersenyum dalam getir melihatmu bersamanya tapi tenang saja itu takan pernah menjadi poin utamaku, yang jelas aku sudah bahagia melihat kau mendapatkan tambatan hati yang jauh lebih baik dari aku. Aku bahagia atas kebahagiaanmu dan aku berharap kau selalu dalam keadaan baik. Jangan pikirkan aku karena aku sudah biasa saat harus kutapaki limbo masa lalu, saat tak bisa kubedakan mana nyata dan mana ilusi tapi aku semakin mahir tenang saja. Untukku kau terlalu berharaga untuk tersakiti untuk hal terakhir yang kau tanyakan.. tak pernah aku berkenalan dengan kata bosan saat menikmati putaran waktu yang konstan. Aku hanya berjuang melindungi ‘kita’ dari semua tuntutan kesempurnaan dari kedua malaikatku, tetapi saat aku tersandung di titik itu.. titik dimana berjuang sendiri adalah suatu kesia-siaan. Aku memilih mundur dan berharap kau bisa lebih bijak saat semua luka terus kau bombardirkan pada atmpsferku yang semakin banyak memiliki lubang tak berbentuk jelas.

P.S :Dear you April, thanks for coming back though now I’m not fine anymore, I’m in pain and should recover my heart from the deepest part (again). I’ll be alright soon. Keep your happiness boy. You’re precious thing that never proper enough to taste how does feel disappointed and being painful.  Have ever been with you is one of the best moment in my existence.
Sincerely
Who always wanna see you to be happy everytime

0 comments:

Post a Comment

now, you know my secrets