Friday, November 9, 2012

Kejelasan Fana


(Semu, Bias, Fana itu Eksistensimu)
anggap saja aku sekarang sedang ada diruangan sunyi, tak ada satu ucappun yang terlontar, aku dikelilingi benteng biru. Haha bukankah itu warna yang dia sukai? sekarang aku termanggu dalam hamparan dedaunan cokelat dan menatap pada cermin panjang yang terpajang diruang sunyi ini. Lalu menatapnya menangis. aku yang merasa semua terasa semakin buyar dan hatiku mulai terkikis. Aku berusaha memahami apa yang terlintas di duniaku. Tapi hingga kini semua terasa terlalu cepat, atau jiwaku mulai meluruh dan aku tak terkoordinasi? Sungguh ingin menyelesaikannya meski sakit yang kutuai kelak.

Tahukah? Aku terhenyak menatap apa yang seharusnya kupahami dengan sekejap. Semua terasa semakin menjatuhkan. Hanya menyisakan tanda, sang pelumpuh hati, penghenti sistemku. Jika hatiku ini secarik kertas, mungkin sudah tak utuh.. karena yang kurasa kertas itu sudah habis teremas-remas . tugasku sekarang adalah membukanya kembali dan menerima garis karena ulahnya.Miris..

Kenapa begitu membutakan? karena aku buta menggapai alasan mengapa ini terjadi. hanya tanda tanya besar yang tersirat di benakku. aku mengemis jawab padanya.. tapi dia hanya menjawab seolah ini bukan urusanku. ingin sekali aku meradang, berteriak dan menyalahkan. jika ini bukan urusanku kenapa dia buat hati ini begitu dungu hingga selalu berharap semua akan kembali. tahukah dia? bahwa mengetahui semua taak baik tanpa mengetahui sang dalang lebih menyayat? Tahukah dia seperapa kali aku mencoba bangun bentengku, menyusun puzzle diriku sendiri tapi tetap saja tak ada rasa. semua membisu mati ditelan ilusi.

Ingin aku pergi dan memaki diriku sendiri karena telah bodoh memberikan semua terlalu cepat.. Tapi apa daya semua sudah terlanjur, jadi kini ini harga yang harus kuterima meratapi aku si gadis malang tak bertuan. Atau masihkah bertuan? Hanya kejelasan fana.

aku masih bisa bertahan saat masih terasa sedikit anggapan tentang diriku dibenakmu, meski hanya dengan sepenggal namaku. tapi sekarang? harus menggantung pada apa lagi? pada udara yang enggan nampak? atau bunyi yang hanya terdengar? atau rasa yang tak berbentuk? pada apa dan pada siapa? atau aku harus memutuskan semua dan lenyap?

bolehkah aku marah padanya, yang membuatku begini? atau pada diri sendiri yang dengan polosnya berharap ini akan indah? atau kembali pada waktu dan berdamai? lalu diam mematung berharap kembali? Aku muak.

cukup! aku tak sesabar itu, aku makhluk berbatas, aku makhluk bernafsu.. aku lemah. Massaku terlalu banyak menguap dengan sendiri, hingga titik balikkupun tak kugapai. Tak mampu berintruksi lalu lumpuhkan semua. Menggapai angan tak berbalas, bercumbu dengan kenaifan diri dan kebodohan tak berlogika.

Dia.. apakah aku boleh berpikir menyamping? aku lelah dengan semua..Berbicara tanpa lawan, berharap tanpa realita, berjalan tanpa tujuan, dan mengenang tanpa ujung. adakah cara melupakan? atau adakah cara memformat diri atau apa ini hanya mimpi dan aku akan terbangun sebentar lagi? Aku sakit..

Aku menyesal Tuhan, bolehkah aku sesali semua? sesali kelakarku yang terburu-buru. bolehkah aku mundur? dimana semua seharusnya tak seperti ini? Aku nanar..

 Untuk hatiku : Maaf karena terlalu memaksakan, maaf karena percayai pelangi dimalam gelap. Maaf karena membuatmu terkikis, tergores dan terhenti. bolehkah aku jujur? aku mulai lelah.. atau sudah lelah dengan semua? sebarapa lama lagi aku harus menanti dia? memikirkan dia, memikirkan keadaannya setiap malam. tanpa dipikirkan juga olehnya? aku minta maaf karena tak menyamankanmu. padahal tupaipun takan terjatuh dua kali.. bukan?

sekarang aku paham, mengapa menditekNya itu dilarang, karena DIA tahu yang terbaik untuk kita, jalani saja jalurnya dan kamu takan sesakit ini. Hai Dia yang disana, sudahkah selesai? atau masih ada putaran selanjutnya setelah ini? dan apa masihkah aku ?

untuk inderaku : maaf membuatmu berkecimpung dalam batas ilusiku. Batas tak tersentuh yang buatmu terus bereaksi menjadi H2O. Pada darah yang kupaksa terus berpacu mewarnai semua lukaku. pada impulsku yang telah lama menangis minta dihentikan. maaf aku egois.. maaf aku ceroboh.. maaf aku menyakiti kalian.

sorry cause i always believe that tomorrow will be better, and he will come back and say sorry with perfect moment. sorry to believe that everything will never useless, and sorry to never believe that im strong enough to take my step back and close the door of hope(less). and make you all enjoy become part of me.
sorry..

Monday, October 29, 2012

Ilusi Tak Berujung


(kamu bermetamorfosa menjadi ilusi, sejak kapan?)

Dentingku tak senyaring dulu, selalu saja ada nada sumbang yang mengitarinya. aku sudah berusaha menutupinya. tapi dia, tampak begitu saja, ingin sekali aku hapus dan tunjukan dentingku yang dulu. denting dimana semua terasa dan akan selalu indah. bukan denting yang membuatku saja malas mendengarnya. kali ini aku mulai termenung. jika sekarang aku berjalan mungkin aku tertatih . mengapa? karena implusku semakin lama, semakin memburuk tak ada lagi elektron yang mau diterimanya. hanya ingin tertidur dan berkata semua akan kembali, aku hanya butuh waktu untuk pulih. tapi tetap saja tanpa impulsku semua terasa buyar, semua tak terkendali dan aku rapuh.

pandanganku tak pernah menjadi jelas setelah itu, gelap, suram dan membutakan. atmosferku selalu saja sendu dan sunyi tidak ada lagi garis tawa atau sunggingan kecil. kamu seperti pelangi, tidak pernah bisa diduga datangnya dan muncul hanya untuk sesaat. seperti ilusi! terlalu menjemukan tapi membuaiku. Berilusilah terus agar aku bisa tetap berpijak, berpijak dalam angan tentangmu.

Bodoh! kamu bodoh, kamu pikir hanya dia sang kuas yang bisa warnai kanvasmu? hei lihat! banyak kuas lain yang berderet menunggumu. kamu pikir aku tidak mau? akupun ingin membiarkan kanvasku mulai terisi dengan yang lain. tapi tidak bisa.. ada warna yang hanya dimilikinya, warna yang buat kanvasku tersenyum, meski kini.. perlahan warnanya memudar dan aku nanar..

Tahukah kamu? aku ingin melangkah mundur,  andai saja menghapus rasa ini seperti ombak menghapus untaianku dipasir. Tak bersisa.. mungkin sudah kulakukan. Tapi tak seperti itu, takan seperti itu.. karena menghapus ceritamu berarti menghapus sebagianku.

kini, tatapanku sudah lain. hatiku membiru. karena setiap kali ilusimu muncul saat itupun aku goyah, terjatuh tak bergaul dengan duniaku. semua terasa sesak dan panas. sesering apapun aku berjanji untuk meninggikan bentengku, selalu ada celah yang membuat bentengku rubuh. aku lelah terus berharap, tanpa tahu apa yang sebenarnya kuhrapkan. bergantung pada bayang semu tentang kembalinya bulan pada sang punuk yang selalu menantinya. Bahkan malampun tahu.. bahwan bulan takan pernah menatapnya.

aku seperti bayang, bisa menyentuhmu tapi tak bermasa, karena dengan seketika akseptormu mengusirku mundur. aku menari tanpa musik, aku menulis tanpa judul, aku melukis tanpa kanvas. semua.. semua terasa seperti itu. kurang, hilang dan tanpanya aku bukan apa-apa.

ingin berhenti berharap dan mulai berhenti mengetuk pintu fanamu. lalu, melangkah mundur dengan senyum ternaif agar semua terasa seharusnya. memulai membangun kanvasku tanpa bantuan kuas lain. membuat kuasku sendiri tanpa semua absurd paradiso yang kau tawarkan.

ingin sekali membuat semuanya menjadi abu, dan biarkannya tersentuh angin hingga lenyap dan semua aroma getirku beradu dengan sang waktu. lahirkan masa terbaruku tanpa luka sedikitpun. Hipokrit! ya itulah aku.

untuk duniaku: sepertinya kamu terlalu naif untuk mengaku kamu tegar, karena yang aku rasa kamu bahkan teramat lemah hingga untuk menghancurkanmu adalah hal termudah yang bisa kulakukan. hilangkan saja jejaknya hingga kamu tak bisa menerrka lagi. setelah itu duniamu ambruk dan kamu adalah abu busuk yang bukan apa-apalagi. terima saja masamu sudah habis, atau bahkan tak pernah ada masa yang dia hadirkan untukmu. kamu hanya persimpangan yang harus dia lalui untuk mengikat dan mendepakmu secara bersamaan. mengusik hidupmu dan membuatmu terlena lalu pergi tanpa jejak tanpa sebab yang jelas. sudahlah untuk apa kamu mengemis hal yang tak pernah seutuhnya menjadi milikmu. sadari saja tak pernah ada minyak yang bisa bergaul dengan air. meski ada titik titrasi yang menyatukannya itu hanya sesaat dan lenyap di akhir reaksi. itulah arti hadirmu pada dirinya! Pergi dan cari duniamu, jadilah penggantungan bukan yang menggantungkan.

untuk apa kamu mengharap warnanya akan kembali dan kembali warnaimu? untuk menyadarkanmu bahwa usahamu tak sia-sia? apakah bisa dan sampai kapan kamu akan menunggu? Duniamu bukan hanya tentang kaum adam yang berlaku sesukanya. Karena dimasa depan kelak, tak ada lelaki yang mencari wanita cantik tapi tak berotak. lelaki sukses akan menetapkan pilihannya pada wanita pintar. jadi sekarang? masihkah kamu berharap?

Tapi aku tahu, ini bukan hanya tentang berpikir ilmiah dan rasional. tapi hatikulah yang memilih. bahkan setelah aku tahu bukan memilihlah yang benar tapi dipilih. aku masih berusaha menerjang dunia tak berujung darinya, mendenting tanpa henti dan mencoba menatap. Bukannya aku takut akan kehilangannya. tapi aku takut, kehilangan aku yang sebenarnya.

 jangan menyalahkan waktu atau keadaan. kamu saja yang menolak, menolak dibangunkan oleh sang pagi, disialaui oleh sang cahaya, karena kamu enggan. enggan tersadar dan ingin selalu terbuai dalam mimpi yang tak pernah membawamu pada akhir. kamu pelihara sendumu, kamu tak pernah mengusik dirimu. kamu hanya menjadikannya sorot utama. tanpa pedulikan sekitar yang mengemis sorot matamu.  jangan jaga jarakmu. jagalah dirimu, lindungilah dirimu dari apa yang disebut buaian. jangan deskripsikan dirimu tegar, jika untuk kehilangan saja kamu takut.  harusnya kamu bersyukur. kini kamu bisa menatap ilusinya yang tak berujung. jangan coba lari tapi buktikan! dengan ini kamu menjadi seorang hawa yang bisa kikis lukamu tanpa ada tetesan yang bercumbu dengan tanah.

jangan salahkan dia karena telah masuk, karena kamulah yang mempersilahkannya dan kamu yang membuatmu begitu mengkhawatirkan. ingat duniamu akan terasa sempurna saat kamu melukisnya dengan desiran hatimu. menyodorkan hal real, buat kanvasmu tumbuh dengan harga yang sepantasnya.


Monday, December 5, 2011

Amazing Pictures


have you realized that with your creativity you can make the same one with this?
just simple picture but with correct effect you can make them so amazing
sometime everything which near your surrounding will be so amazing because how the picture has been taken
it's just simple picture, but look! it has a big meaning!
just a pillow? ya, but they are fallin' in love
like the fairy who catches her love
honey bunny, look the baby looks so shock. but (again) so amazing if you look from same side
that's my favorite picture!
firework! love shapes? I love it
i found them on tumblr. i love them. i love the contrast, the colors, the expression and the other one. that's picture shows me how to be so free! FREEDOM

Sunday, May 9, 2010

rumah adat Kasepuhan


Keadaan Gografis dan Dmografis
Kraton Kesepuhan terletak di sebelah selatan Cirebon. Luas Kraton Kesepuhan secara keseluruhan 25 hektar. Adapun batas wilayah Kraton Kesepuhan adalah:
ý Sebelah Utara : Kelurahan Kesepuhan
ý Sebelah Timur : Kelurahan Pegambiran
ý Sebelah Selatan : Kelurahan Kesambi
ý Sebelah Barat : Laut
2 Sejarah Trbentuknya Kraton Kesepuhan
Pada abad XV (±1430 M) Pangeran Cakrabuana putra mahkota pajajaran membangun kraton yang kemudian diserahkan kepada putrinya “Ratu Ayu Pakungwati”, maka kratonnya diberi nama Kraton Pakungwati (hingga sekarang dikenal dengan sebutan Dalem Agung Pakungwati).
Ratu Ayu Pakung wati kemudian menikah dengan sepupunya Syech Syarif Hidayatullah (Putra Ratu Mas Larasantang adik Pangeran Cakrabuana) lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati, kemudian Sunan Gunung Jati dinobatkan sebagai pimpinan atau kepala Negara di Cirebon dan bersemayan di Kraton Pakung Wati; semenjak itu Cirebon merupakan pusat pengembangang agama Islam di Jawa dengan adanya Wali Sanga yang dipimpin Sunan Gunung Jati dan peninggalan–peninggalannya diantaranra Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Pada abad XVI Sunan Gunung Jati wafat, kemudian pangeran Emas Zainul Arifin cicit dari Sunan Gunung Jati bertahta menggantikannya. Kemudian pada tahun candra sangkala “Tunggal Tata Gunaning Wong” atau 1451 Saka yaitu tahun 1529 beliau mendirikan kraton baru di sebelah barat daya dalem Agung Pakungwati, kraton ini dinamai kraton Pakungwati dan beliau bergelar Panembahan Pakungwati I.
Kraton Pakungwati mengambil dari nama ratu Ayu Pakungwati putri Pangeran Cakrabuana yang menikahdengan sunan Gunung Jati; putri cantik rupawan dan berbudi luhur dapat mendampingi suami di bidang pembinaan negara dan agama juga penyayang rakyat.
Pada ± tahun 1549 masjid Agung Sang Cipta Rasa kebakaran, Ratu Ayu Pakungwati yang sudah tua itu turut memadamkan api, api dapat dipadamkan namun ratu Ayu Pakungwati kemudian wafat; semenjak itu nama/sebutan Pakungwati dimulnyakan dan diabadikan oleh nasab Sunan Gunung Jati.
Pada ± tahun 1679 didirikan Kraton Kanoman oleh sultan Anom I (sultan Badridin) maka semenjak itu Kraton Pakungwati disebut Kraton Kesepuhan hingga sekarang dan Sultannya bergelar Sultan Sepuh. Kesepuhan artinya tempat yang sepuh/tua, jadi antara Kesepuhan dan Kanoman itu awalnya yang tua dan yang muda (kakak beradik).

Batik


Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009. 

ejarah teknik batik

Tekstil batik dari Niya (Cekungan Tarim), Tiongkok
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

Budaya batik

Corak batik

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.

 Baju Batik di Indonesia

Pada awalnya baju batik kerap dikenakan pada acara acara resmi untuk menggantikan jas. Tetapi dalam perkembangannya apda masa Orde Baru baju batik juga dipakai sebagai pakaian resmi siswa sekolah dan pegawai negeri (batik Korpri) yang menggunakan seragam batik pada hari Jumat. Perkembangan selanjutnya batik mulai bergeser menjadi pakaian sehari-hari terutama digunakan oleh kaum wanita. Pegawai swasta biasanya memakai batik pada hari kamis atau jumat.

Menurut teknik

  • Batik tulis adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
  • Batik cap adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.
  • batik saring,
  • batik celup,
  • batik terap.

Menurut asal pembuatan

Batik Jawa
batik Jawa adalah sebuah warisan kesenian budaya orang Indonesia, khususnya daerah Jawa yang dikuasai orang Jawa dari turun temurun. Batik Jawa mempunya motif-motif yang berbeda-beda. Perbedaan motif ini biasa terjadi dikarnakan motif-motif itu mempunyai makna, maksudnya bukan hanya sebuah gambar akan tetapi mengandung makna yang mereka dapat dari leluhur mereka, yaitu penganut agama animisme, dinamisme atau Hindu dan Buddha. Batik jawa banyak berkembang di daerah Solo atau yang biasa disebut dengan batik Solo.

sinden


Pesindhén, atau sindhén (dari Bahasa Jawa) adalah sebutan bagi wanita yang bernyanyi mengiringi orkestra gamelan, umumnya sebagai penyanyi satu-satunya. Pesindén yang baik harus mempunyai kemampuan komunikasi yang luas dan keahlian vokal yang baik serta kemampuan untuk menyanyikan tembang.
Pesinden juga sering disebut sinden, menurut Ki Mujoko Joko Raharjo berasal dari kata "pasindhian" yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga disebut waranggana "wara" berarti seseorang berjenis kelamin wanita, dan "anggana" berarti sendiri. Pada zaman dahulu waranggana adalah satu-satunya wanita dalam panggung pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Sinden memang seorang wanita yang menyanyi sesuai dengan gendhing yang di sajikan baik dalam klenengan maupun pergelaran wayang. Istilah sinden juga digunakan untuk menyebut hal yang sama di beberapa daerah seperti Banyumas, Yogyakarta, Sunda, Jawa Timur dan daerah lainnya, yang berhubungan dengan pergelaran wayang maupun klenengan. Sinden tidak hanya tampil solo (satu orang) dalam pergelaran tetapi untuk saat ini pada pertunjukan wayang bisa mencapai delapan hingga sepuluh orang bahkan lebih untuk pergelaran yang sifatnya spektakuler.
Pada pergelaran wayang zaman dulu, Sinden duduk di belakang Dalang, tepatnya di belakang tukang gender dan di depan tukang Kendhang. Hanya seorang diri dan biasanya istri dari Dalangnya ataupun salah satu pengrawit dalam pergelaran tersebut. Tetapi seiring perkembangan zaman, terutama di era Ki Narto Sabdho yang melakukan berbagai pengembangan, Sindén dialihkan tempatnya menghadap ke penonton tepatnya di sebelah kanan Dalang membelakangi simpingan wayang dengan jumlah lebih dari dua orang.
Di era modern sekarang ini Sindén mendapatkan posisi yang hampir sama dengan artis penyanyi campursari, bahkan sindén tidak hanya dibutuhkan untuk mahir dalam menyajikan lagu tetapi juga harus menjaga penampilan, dengan berpakaian yang rapi dan menarik. Sindén tidak jarang menjadi "pepasren" (penghias) sebuah panggung pertunjukan wayang. Bila Sindénnya cantik-cantik dan muda yang nonton akan lebih kerasan dalam menikmati pertunjukan wayang. Perkembangan wayang saat ini bahkan Sindén tidak hanya didominasi wanita tetapi telah muncul beberapa orang Sindén laki-laki yang mempunyai suara merdu seperti wanita, tetapi dalam dandannya sindén ini tetap memakai pakaian adat jawa selayaknya pengrawit pria lainnya dan beberapa waktu lalu sindén laki-laki ini malah menjadi trend para Dalang untuk menghasilkan nilai lebih pada pergelarannya.

Sejarah Jawa Barat


Temuan arkeologi tertua mengenai penghuni Jawa Barat ditemukan di Anyer dengan ditemukannya budaya logam perunggu dan besi dari sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman Buni (Bekasi kuno) dapat ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon.
Jawa Barat pada abad ke 5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.
Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara akibat serangan kerajaan Sriwijaya berdasarkan prasasti Kota Kapur (Tahun 686), kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Ciserayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).
Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi ancaman kepada Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cirebon lepas dari Kerajaan Sunda atas bantuan Kesultanan Demak. Pelabuhan Cirebon kemudian menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian menjadi Kesultanan Banten. Untuk menghadapi ancaman Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak, Sri baduga Maharaja, raja Sunda saat itu meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan bangsa Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang dikenal dengan Luso-Sundanese Treaty, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut Padrao di tepi sungai Ciliwung di sekitar daerah Tugu.
Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon - Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan, menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.
Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.
Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.
Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.
Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Kebudayaan Daerah


Seluruh kebudayaan daerah yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.
Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.
Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.
Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama Islam oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka menuju Tiongkok.
Kedatangan penjelajah dari Eropa sejak abad ke-16 ke Nusantara, dan penjajahan yang berlangsung selanjutnya, membawa berbagai bentuk kebudayaan Barat dan membentuk kebudayaan Indonesia modern sebagaimana yang dapat dijumpai sekarang. Teknologi, sistem organisasi dan politik, sistem sosial, berbagai elemen budaya seperti boga, busana, perekonomian, dan sebagainya, banyak mengadopsi kebudayaan Barat yang lambat-laun terintegrasi dalam masyarakat.

Bubuy Bulan



Bubuy bulan
Bubuy bulan sangray bentang
Panon poe
Panon poe disasate
Unggal bulan, unggal bulan
Unggal bulan abdi teang
Unggal poe,unggal poe
Unggal poe oge hade
Situ Ciburuy
laukna hese dipancing
Nyeredet hate
Ningali ngeplak caina
Duh eta saha nu ngalangkung
unggal enjing
Nyeredet hate
Ningali sorot socana

Rengginang


Rengginang merupakan sejenis kerupuk yang dibuat dari nasi atau nasi ketan yang dikeringkan lalu digoreng panas (deep-fry). Agak berbeda dari jenis kerupuk lain, yang dibuat dari adonan bahan yang dihaluskan (seperti tepung tapioka atau tumbukan biji melinjo), rengginang tidak dihancurkan, sehingga bentuk butiran nasi masih tampak.
Rengginang dapat dimasak tanpa diberi bumbu maupun diberi rasa asin atau manis.

Dodol Garut


Dodol Garut merupakan makanan khas dari kota Garut provinsi Jawa Barat. Terdapat banyak jenis dari dodol Garut ini, diantaranya adalah dodol wijen, dodol nanas, dodol tomat, dodol durian, dodol coklat, dan masih banyak lagi jenis-jenisnya. Dodol ini termasuk kepada makanan camilan karena rasanya yang manis.
Terdapat banyak sekali toko-toko atau warung-warung yang menyajikan dodol sebagai jualannya. Di sepanjang jalan kota Garut banyak penjual yang menjajakan dodol garut, terutama di jalan-jalan yang sebagai pintu gerbang ke daerah lain di sekitar kota Garut.
Orang banyak yang menyukai dodol Garut ini karena rasanya yang khas, sehingga membedakan dengan dodol-dodol yang berasal dari daerah lainnya di Indonesia.

Mochi


Mochi (Jepang: 餅; Hanzi: (麻糬)) adalah kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat. Di Jepang, kue ini sering dibuat dan dimakan pada saat perayaan tradisional mochitsuki atau perayaan tahun baru jepang. Namun demikian, jenis kue ini dijual dan dapat diperoleh di toko-toko kue di sepanjang tahun. Namun sekarang mochi sudah terkenal di daerah Jawa Barat, dan banyak yang mengatakan mochi termasuk makanan khas Jawa Barat.

Ubi Cilembu


Ubi Cilembu' adalah kultivar ubi jalar merupakan ras lokal asal Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Ubi jalar ini populer di kalangan konsumen semenjak tahun 1990-an.
Ubi Cilembu lebih istimewa daripada umbi biasanya karena umbi ini bila dioven akan mengeluarkan sejenis cairan lengket gula madu yang manis rasanya. Karena itu, umbi Cilembu disebut juga dengan umbi si madu. Bila umbi pada umumnya juga manis, rasa manis umbi Cilembu ini lebih manis dan lengket dengan gula madu. Rasa manis ini membuat tenaga ekstra bagi orang yang mengkonsumsinya.
Ubi ini tidak cocok untuk digoreng, karena kandungan gulanya yang tinggi membuat ubi ini sangat mudah “gosong”, dan juga tidak cocok untuk direbus, karena aroma dari “madu” nya akan berkurang, bahkan hilang. Pada umumnya produk ubi Cilembu diperdagangkan dalam bentuk ubi bakar selain diolah dalam bentuk kripik, tape, dodol, keremes, selai, saus, tepung, aneka kue, mie, dan sirup. Ubi Cilembu memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena rasa yang khas, manis seperti madu dan legit, struktur dagingnya kenyal dan menarik sehingga sangat digemari oleh pelaku usaha tani dan konsumen.
Selain rasa yang sangat manis, warna daging ubi juga cukup menarik dimana kulit dan daging ubi berwarna krem kemerahan diwaktu mentah dan berwarna kuning bila dimasak dan bentuk ubi panjang berurat. Bentuknya panjang dan kulitnya tak mulus karena ada urat-urat panjang yang menonjol. Ketika dipanggang, dibakar, atau dioven, dari kulitnya yang berwarna gading akan muncul lelehan-lelahan seperti madu.
Ubi Cilembu memiliki kandungan vitamin A 7.100 IU (international unit). Suatu jumlah yang cukup tinggi untuk perbaikan gizi bagi mereka yang kekurangan vitamin A. Padahal, umbi-umbian jenis lain, kandungan vitamin A-nya hanya berada pada angka 0,001-0,69 mg per 100 gram. Selain vitamin A yang tinggi, juga mengandung kalsium hingga 46 mg per 100 gram, vitamin B-1 0,08 mg, vitamin B-2 0,05 mg dan niacin 0,9 mg, serta vitamin C 20 mg

Tapai Singkong (peuyeum)


Tapai singkong adalah tapai yang dibuat dari singkong yang difermentasi. Makanan ini populer di Jawa dan dikenal di seluruh tempat, mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Di Jawa Barat, tapai singkong dikenal sebagai peuyeum (bahasa Sunda).
Pembuatan tapai melibatkan umbi singkong sebagai substrat dan ragi tapai (Saccharomyces cerevisiae) yang dibalurkan pada umbi yang telah dikupas kulitnya. Ada dua teknik pembuatan yang menghasilkan tapai biasa, yang basah dan lunak, dan tapai kering, yang lebih legit dan dapat digantung tanpa mengalami kerusakan. Tapai kering populer di daerah Priangan utara (Purwakarta dan Subang), dan dikenal sebagai buah tangan khas dari daerah ini (dikenal sebagai peuyeum gantung, karena diperdagangkan dengan digantung.).
Pusat penghasil tapai yang lainnya adalah Bondowoso, Jawa Timur.