Sunday, July 12, 2015

Nona,Aku Sangat Ringkih untuk Itu

Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk disirami.
Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk dibudidayakan.
Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk dirawat degan tangan-tangan dingin para petani handal.
Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk dipetik bila ditujukan untuk kebahagian insan lain.
Semua elemen ideal adalah sebuah padanan yang dinilai sempurna keberadaannya hingga menghilangkan fokus akan kuantitas dan rutinitas.

Ada bagian yang tidak dapat dibahagiakan hanya dengan idealisasi yang mereka nilai sempurna adanya.
Ada bagian yang harus selalu diperbaharui dosisnya untuk menjaga keberlangsungan hidupnya.
 Ada bagian yang terkadang harus merasakan getir untuk mengingat arti bahagia.
Ada bagian..yang menolak tatanan ideal. Ada.
Pada detik ini, bagian itu terasa semakin ringkih, semakin mudah tersapu oleh hanyutan buaian mereka yang tidak berkeyakinan, semakin gamang adanya akibat surat fana dari zona nyaman tempatnya selalu bergelung dan menghisap syahdu kebahagiaan. Itu candu, candu yang kadarnya dapat diatur sesuai kebutuhan dan tidak meninggalkan dampak setelahnya.
Bagian itu mengerang semakin hari, menolak diberikan dosis yang sama berbulan-bulan lamanya. Tapi ada bagian lain dalam dirinya yang terus memaksakan diri untuk tetap dalam zona itu karena apabila dia menyerah, maka ada satu bagian dari insan lain yang akan gugur dan bagian-itu tentu tidak akan berdamai dengan keguguran yang diakibatkanya.
Sering sekali rasanya ingin menghardik bagian itu.. bagian penentu kehidupan dan bila dia bermalas-malasan untuk berdegub, semua akan terhenti, semuanya. Mengapa terlalu mudah menyerah? Mengapa rasanya terlalu ringkih untuk menanggung dosis itu lebih lama lagi? Apa tidak terpikirkan apabila bagian lain adalah kepemilikanmu? Mengapa begitu sulit untuk bertahan lebih lama lagi?
Saat semua getir ini mendepakku pada keyakinanku, bagian ini menangis sambil erseok-seok menghampiriku.

Untuk kamu pemilik keseluranku ini,
Sungguh aku ingin menemanimu untuk berjuang, sungguh aku ingin bertahan jauh lebih lama lagi, sungguh aku ingin semua ini berjalan dengan idealnya, tapi maafkan aku yang terlalu rapuh untuk menahan dosis yang diberikannya padaku. Detik ini, aku menyerah Nona, dosisnya terlalu menyakitkan setelah kerja keras yang kulakukan dan tetap dosis itu yang kudapati, aku lelah dengan semua perlakuan yang terlalu ideal tanpa kualitas kuantitas yang dipadankan terhadap itu. Apakah Nona tau? Hampir seluruh kepunyaanku telah dia renggut dan haruskah aku tetap bertahan dengan prilaku yang seperti ini? Izinkan aku melangkah mundur perlahan untuk memperbaiki apa yang telah diperbuatnya dengan dosis yang diberikannya padaku. Seakan dia amnesia akan bagaimana cara memperjuangkan apa yang telah dia dapatkan dengan susah payah, atau dua kata terakhir tidak pernah ada dalam perjalanannya? Bisa jadi begitu bukan? Maaf untuk keegoisanku ini. Tapi aku tidak cukup tegar melihat bulir-bulir kehidupan berjatuhan dengan megahnya dari indera Nona. Bisakah Nona perlakukan apa yang Nona miliki sebaik mungkin? Tolong..

Balasan Nona untuk bagian itu,
“ Nona ini sangat memperdulikan insan ini wahai bagian-itu, jika menjadi masa bodoh atas keseluruhanku itu satu jalan membuat insan itu bahagia. Sungguh.. akan aku lakukan. Maaf karena mengecewakanmu, tapi aku terlalu takut melihat guguran tersebut dari dirinya. Apa tidak bisa kita berjuang dengan keras barang sekali lagi? Lalu berdamai dengan keadaan bahwa dosis itu harus kita anggap menjadi takaran terbaik untukmu? Maaf.. tapi aku tidak ingin menjadi egois terlebih pada insan ini. Meski pada keseluruhanku sendiri aku menjadi bagian ter-tidak-peduli. Bisakah aku ini diberi maaf?”



0 comments:

Post a Comment

now, you know my secrets