2015

Tuesday, July 21, 2015

Senandung Limitasi


Halo hari ini izinkan aku bercerita boleh kah? Akhir-akhir ini keadaan disekitarku sedang memburuk dan aku selalu merasa lingkungan memperngaruhi diriku, semua memburuk dan diriku akan memburuk pula. Entah mengapa sampai saat ini diri ini belum bisa menjadi seseorang yang independen, menentukan sendiri, dan tidak tergoyahkan oleh lingkungan dan orang-orang disekitarnya. Tapi tentunya itu akan jadi bahan pelajaran untuk wanita yang sedang mengetik entry terbarunya ini, agar kedepannya bisa menjadi orang yang digantungkan, tidak hanya bisanya Cuma menggantungkan diri.
Boleh aku mulai bercerita? Mengapa diam? Aku anggap diam kalian itu berarti boleh.
Pertama, bolehkah aku bercerita masalah hati? Entah karena hal apa.. aku semakin meragu adanya. Semakin fana saja apa yang diinginkan hati ini. Terkadang rasanya aku tidak tahu harus bagaimana dan apa sebaiknya aku perlahan bergerak mundur? Mengapa harus memudar jika memberikan warna lebih indah adanya? Tapi aku takut terkadang.. apa dengan bertahan semua ini akan membuatku bahagia kelak? Atau lagi-lagi akan disia-siakan? Sebenarnya aku sudah handal dalam menyembuhkan luka, tapi ini, yang aku jalani sekarang, bukanlah hal main-main yang ku jalani dulu. Bukan lagi kesenangan yang menjadi dasar hubungan ini. Aku teramat lelah dengan semua yang telah terjadi silam. Mungkin karena hal itu, aku memasang standar tinggi pada hubungan ini. Tapi yang kutuai hanya penolakan akan standar-standar yang aku pasang sendiri. Dari situ aku belajar, bahwa mengalir lebih baik atau keidealan tidak pernah nyata adanya. Selalu saja ada bagian yang mencoreng keberadaannya bahkan kamu perancang keidealan itu bisa merusaknya.
Lalu apa masalahnya kini? Masalah ku kini adalah.. merasa letih akan meyakini, merasa letih akan berharap. Ketika insan lain terlalu nyaman dengan zonanya sendiri dan menolak untuk mencicipi zona lainnya atau bahkan hanya untuk melirik dan ada insan lain yang mulai letih untuk menyamai langkah si zona insan tersebut. Akulah insan itu, aku mulai lelah mencicipi zona nyamannya. Memang salah jika aku mengharapkan balasan untuk dia melakukan hal yang sama denganku. Hari demi hari terus menyapaku dan sesekali memberikan bingkisan cantik tentang indahnya keseimbangan. Terkadang aku iri, ketika mereka yang lain bercerita tentang tambatan hati. Tentang meraka yang diyakinkan pada hubungan mereka.
Sering sekali saat kesendirian menyapaku, saat hanya ada suara lantunan lagu dari laptopku, angin yang bergurau dengan rerumputan bergemersik ditelinga, dan matahari yang tetap menjaga jarak aman denganku.. aku berpikir, harusnya aku bersyukur dia tidak mempertemukanku dengan mereka. Memang seyakin apa hubungan ini akan berhasil wahai Nona? Melepaaskan jauh lebih mudah kelak jika tanpa kehadiran mereka. Jangan mengikatkan dua hal yang lebih rumit didalamnya, ketika hatimu belum yakin dengan dia sang pendatang yang meminta dirimu berjalan beriringan dengannya.
Jangan anggap dia tidak berusaha membahagiakanku, dia selalu melakukannya, aku selalu bahagia awalnya dan sangat menyukai apapun yang dia lakukan bersamaku. Tetapi apakah dia tahu? Sesuatu yang dilakukan berulang dengan pola yang sama dan jangka waktu yang lama membuat semua tidak terasa seperti bagaimana semula itu terasa. Bukankah aku egois? Hanya memintanya berusaha lebih dan tidak memperbaiki diri? Apa mauku? Pasti sebagian darimu berkata demikian?
Aku berjuang.. sungguh aku berjuang meyakinkan diriku bahwa dia pantas diperjuangkan, memberi stimulus pada diriku bahwa aku mungkin harus bertahan lebih lama, bukankah aku menyayanginya? Bukankah bulan-bulan sebelumnya aku bisa menyembuhkan keletihanku ini sendiri? Mengapa kali ini aku menjadi payah? Bukan.. bukan seperti itu. Tapi apapun yang kulakukan berulang-ulang dengan pola yang samapun akan membuatku kebal karenanya. Oh Tuhan.. maafkan aku atas ini. Mungkin aku butuh waktu. Aku letih memanggu dungu dan menungguinya hingga mengetuk zonaku. Atau harus kuajak dia masuk? Tapi aku mau dia nyaman dengan sendirinya, Tuhan.. apa aku salah jika melakukan ini? Entah rasanya ini seperti cerita roman super berlebihan bukan?
Kedua, rutinitasku banyak sekali yang berubah, sungguh. Aku yang dulu bisa dikatakan apatis dan sedikit masa bodo dengan kehidupan berorganisasi sekarang disentil dengan tanggung jawabku sebagai salah satu hal krusial di acara yang merupakan acara bersejarah bagi masing-masing insan yang akhirnya merampungkan Strata satu mereka. Yap aku tahu kamu paham apa hal itu. Kadang aku letih menganalisis apa yang harus aku lakukan. Meski dengan ini mataku dan pikiranku semakin terbuka, bahwa apa yang kita lihat diluar belum tentu sama di dalam. Semua yang kita lihat pasti atas dasar pemikiran yang memeras otak, hati yang berkali-kali mengucap istigfar,dan asa yang berkali-kali meyakinkan diri bahwa tugas ini bisa dirampungkan. Hal pertama yang terjadi saat pekerjaanku tidak begitu disetujui dan memintaku kembali merubahnya dari awal adalah.. sakit dan rasanya ingin aku memaki. Tapi untuk apa? Tidak akan menyelesaikan masalah bukan? Tapi tetap kulakukan, aku memaki.. memaki diriku sendiri yang tidak cermat dalam pemlihan dan pengerjaan setiap detailnya. Bahkan itu bukan detail itu dasar dimana fondasi akan dipijakan. Dari situlah aku memahami, setiap pekerjaan bukan bertujuan hanya untuk dirampungkan.. tetapi untuk dipahami apa yang kita dapat dari pekerjaan itu kelak. Itulah pembentukan pola pikir himpunanku atau lebih tepatnya ikatanku. Menekanku dengan standar tinggi hingga memaksaku keluar dari limitasiku sendiri, mengapa harus memaksa? Karena itu memakan waktu lebih cepat dan memecut kesadaran dan kepekaanmu lebih dari metode lain. Aku tidak menolak sungguh, aku malah menjadi senang menonton karenanya. Kalian bingung? Iya aku jadi senang menonton semua probabilitas dan hal yang harus dicermati dari setiap detail yang aku ambil. Setiap hal datang untuk memberikanku pelajaran, yang berbeda adalah bagaimana cara mereka memaparkan pelajaran tersebut. Apakah dengan membuatku sakit hingga membekas dikepala atau bermanis-manis agar aku semangat. Menjadi objektif adalah hal  yang ku genggam kali ini, tidak erat-erat tentunnya aku tidak mau ada insan yang tersakiti karena kekukuhanku akan penilaianku, hanya memastikannya tetap ditangan.
Keluhanku kali ini, tidak semua paham hal tersebut, tidak semua memiliki prioritas yang sama, dan terkadang semua membebaniku.. aku terkadang letih memahami semua sendirian, aku letih kebingungan sendirian, dan kadang aku letih meminta bantuan pada mereka-dan-prioritas-berbeda-mereka, hingga aku berpikir apa aku sja yang lahap ini semua? Tapi aku tidak ingin serakah akan ilmu. Jika aku belum mampu memberi hal yang lebih berharga pada mereka, ilmulah yang bisa kita pelajari bersama-sama yang bisa aku berikan.
Aku hanya ingin berusaha semaksimal yang bisa aku lakukan, aku hanya ingin selalu ada saat orang-orang membutuhkan karena hal itu menenangkan. Tapi entah dasar manusia.. aku juga ingin mereka melakukan hal yang sama untukku. Tapi terkdang saat aku menoleh hanya ada udara malam yang menyapa. Rasanya aku harus becermin, mungkin aku tidak benar-benar disana saat mereka butuh, hingga yang kudapatpun mereka tak benar-benar ada saat aku jatuh, karena aku yakin apa yang aku tuai adalah apa yang aku tanam dimasa silam.

Ketiga, rasanya kami semakin menjauh.. iya aku dan satu insan Tuhan dengan hubungan darah antara kami. Dia semakin menolak didekati dan aku semakin lama semakin menolak memahami. Entah, rasanya semakin asing.. semakin memudar. Bukankah hal itu tidak boleh terjadi? Tapi entahlah..

Rasanya senandung limitasiku sedang mencapai puncak kekuasaan atas insan ini.. ya atas diriku. Dan aku sedang tidak berminat memperbaiki keadaan. Bolehkah aku mengomandokan hal ini pada lingkungan sekitar? Agar dia mengembalikan semua ini dan mengizinkan aku pulang.. aku ingin pulang dan disambut oleh matahari yang berpamitan pulang untuk menemui lautan. Berpamitan dengan si jingga, lalu seruan menggoda tanpa suara dari hot dark-chocolate. Si pahit dan  manis yang dengan adilnya membagi peran kemunculan, seperti hidup yang terkadang pahit dan manis. Lalu yang terakhir keanggunan kelembutan kapas yang bersama-sama menghilangkan rasa sakit saat bagian pelindung tulang ekor ini menolak berdiri lama-lama dan ingin bergerlung bersamanya.

Izinkan aku menyapa zona tempatku bergerlung hei kamu senandung-limitasi.



Sunday, July 12, 2015

Nona,Aku Sangat Ringkih untuk Itu


Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk disirami.
Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk dibudidayakan.
Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk dirawat degan tangan-tangan dingin para petani handal.
Pada dasarnya tidak ada bunga yang menolak untuk dipetik bila ditujukan untuk kebahagian insan lain.
Semua elemen ideal adalah sebuah padanan yang dinilai sempurna keberadaannya hingga menghilangkan fokus akan kuantitas dan rutinitas.

Ada bagian yang tidak dapat dibahagiakan hanya dengan idealisasi yang mereka nilai sempurna adanya.
Ada bagian yang harus selalu diperbaharui dosisnya untuk menjaga keberlangsungan hidupnya.
 Ada bagian yang terkadang harus merasakan getir untuk mengingat arti bahagia.
Ada bagian..yang menolak tatanan ideal. Ada.
Pada detik ini, bagian itu terasa semakin ringkih, semakin mudah tersapu oleh hanyutan buaian mereka yang tidak berkeyakinan, semakin gamang adanya akibat surat fana dari zona nyaman tempatnya selalu bergelung dan menghisap syahdu kebahagiaan. Itu candu, candu yang kadarnya dapat diatur sesuai kebutuhan dan tidak meninggalkan dampak setelahnya.
Bagian itu mengerang semakin hari, menolak diberikan dosis yang sama berbulan-bulan lamanya. Tapi ada bagian lain dalam dirinya yang terus memaksakan diri untuk tetap dalam zona itu karena apabila dia menyerah, maka ada satu bagian dari insan lain yang akan gugur dan bagian-itu tentu tidak akan berdamai dengan keguguran yang diakibatkanya.
Sering sekali rasanya ingin menghardik bagian itu.. bagian penentu kehidupan dan bila dia bermalas-malasan untuk berdegub, semua akan terhenti, semuanya. Mengapa terlalu mudah menyerah? Mengapa rasanya terlalu ringkih untuk menanggung dosis itu lebih lama lagi? Apa tidak terpikirkan apabila bagian lain adalah kepemilikanmu? Mengapa begitu sulit untuk bertahan lebih lama lagi?
Saat semua getir ini mendepakku pada keyakinanku, bagian ini menangis sambil erseok-seok menghampiriku.

Untuk kamu pemilik keseluranku ini,
Sungguh aku ingin menemanimu untuk berjuang, sungguh aku ingin bertahan jauh lebih lama lagi, sungguh aku ingin semua ini berjalan dengan idealnya, tapi maafkan aku yang terlalu rapuh untuk menahan dosis yang diberikannya padaku. Detik ini, aku menyerah Nona, dosisnya terlalu menyakitkan setelah kerja keras yang kulakukan dan tetap dosis itu yang kudapati, aku lelah dengan semua perlakuan yang terlalu ideal tanpa kualitas kuantitas yang dipadankan terhadap itu. Apakah Nona tau? Hampir seluruh kepunyaanku telah dia renggut dan haruskah aku tetap bertahan dengan prilaku yang seperti ini? Izinkan aku melangkah mundur perlahan untuk memperbaiki apa yang telah diperbuatnya dengan dosis yang diberikannya padaku. Seakan dia amnesia akan bagaimana cara memperjuangkan apa yang telah dia dapatkan dengan susah payah, atau dua kata terakhir tidak pernah ada dalam perjalanannya? Bisa jadi begitu bukan? Maaf untuk keegoisanku ini. Tapi aku tidak cukup tegar melihat bulir-bulir kehidupan berjatuhan dengan megahnya dari indera Nona. Bisakah Nona perlakukan apa yang Nona miliki sebaik mungkin? Tolong..

Balasan Nona untuk bagian itu,
“ Nona ini sangat memperdulikan insan ini wahai bagian-itu, jika menjadi masa bodoh atas keseluruhanku itu satu jalan membuat insan itu bahagia. Sungguh.. akan aku lakukan. Maaf karena mengecewakanmu, tapi aku terlalu takut melihat guguran tersebut dari dirinya. Apa tidak bisa kita berjuang dengan keras barang sekali lagi? Lalu berdamai dengan keadaan bahwa dosis itu harus kita anggap menjadi takaran terbaik untukmu? Maaf.. tapi aku tidak ingin menjadi egois terlebih pada insan ini. Meski pada keseluruhanku sendiri aku menjadi bagian ter-tidak-peduli. Bisakah aku ini diberi maaf?”