Monday, May 26, 2014

Trilogi



(I'm just trying to grow up)


Halo, pasti kalian bosan pada semua celoteh muramku.. Maaf tapi entah harus bagaimana lagi agar semua terlihat semestinya. Mengapa rasanya disini sakit? Saat semua cerita lama dengan sadarnya kuungkap ke permukaan. Mengapa masih ada yang berbekas? Sudah hampir enam tahun bukan? Dan masih saja seperti ini. Miris bukan? Aku tahu.

Benih ini gagal ku budidayakan, bukan karena terlalu malas menyiraminya dan memberinya nutrisi agar lebih cepat tumbuh dan berkembang. Aku malah terlalu berlebihan memberikan segalanya.. hingga benihku tak tumbuh dengan semestinya terlebih mati, membusuk..
Benih ini sudah berusia renta, sudah paham bagaimana perbedaan semua nutrisi yang diberikan padanya. Tapi tetap saja dia enggan tumbuh menjadi yang seharusnya. Dia menolak untuk tumbuh lebih tepatnya. Apa yang dia butuhkan bumi? Bukankah semua sudah kuusahakan? Apa yang terlewatkan olehku?
Terkadang saat nutrisi baru menyapanya dia seolah akan tumbuh dengan gagahnya tapi nyatanya itu hanya sesaat bumi.. lalu terdiam seolah mati enggan tumbuh..dan nyaris membusuk. Apa salahku?

Ingin sekali memberitahumu bahwa setekun apapun kau memberi berbagai jenis nutrisi.. dia akan selalu seperti itu.. mencoba tumbuh hanya untuk menyadari bukan nutrisi ini yang dia butuhan. Dia hanya ingin dirawat semestinya seperti mereka yang tumbuh dengan liar. Sebab semua yang dibutuhkannya hanyalah penanam tekun sepertimu. Tahukah kau penanam sesuatu yang berlebihan itu akan berdampak buruk. Seperti kau contohnya:” You love too much so you hurt too much.”, dan apa bedanya benih itu denganmu? Mengapa tak kau biarkan saja benih itu digantikan dengan benih-benih yang lebih berkualitas darinya? Mengapa kau malah tekun mengamati setiap gerak-geriknya, keperluannya, bahkan apa yang sedang dia butuhkan baru-baru ini? Bukankah kau memang sudah gagal dari sediakala. Mengapa masih berharap ada celah? Mengapa kau begitu batu? Hingga lupa berapa banyak waktu yang telah kau lewatkan untuknya? Waktu yang kau buang dengan sia-sia.
-Bumi
Halo Bumi, terimakasih telah memperhatikan semua tingkahku. Terimakasih atas semua waktu yang kau berikan saat aku berkeluh kesah, terimakasih atas semua udara sejuk yang kau hadiahkan saat aku sedang kegerahan, dan terimakasih atas rumput yang subur juga bunga-bunga mekar yang menemaniku saat aku bermuram durja. Aku tahu betapa bodohnya aku. Jika benih itu adalah sebangsaku mungkin aku akan berkata ;”Ya aku memang bodoh..give attention to one person too much till I never know that another one give attention to me or I just ignore to know it?” Tapi andai saja kau tahu Bumi, bahwa aku selalu berharap ada satu saja harapan yang akan membuat benih itu tumbuh untuk mengenyahkan semua probabilitas akan kematian benih ini, meski aku harus mengorbankan semuanya seperti enam tahun ini.

Kadang memang melelahkan Bumi, seperti aku seekor marmut merah jambu lucu yang berlari di atas roda.. seolah aku sudah berlari jauh, tapi nyatanya aku tidak berpindah sedikitpun tetap ditempat yang sama. Melelahkan bukan? Hanya entah kapan ada yang akan datang menghampiriku untuk memintaku berhenti..aku hanya mengira benih inilah yang akan berujar demikian dengan kesuburannya kelak. Tapi nyatanya semua salah. Saat penolakan terakhirnya untuk tumbuh padaku. Satu setengah bulan yang lalu. Saat awan tak sedang bersahabat denganku, angin berlari semaunya, bunga-bunga enggan menyapaku dan kesunyian akan kicauan burung-burung yang selalu kau datangkan untuk sekedar bercanda gurau. Aku lelah Bumi, Aku lelah menjadi punduk yang merindukan rembulan, aku merasa sudah cukup untuk mempertaruhkan semua Kristal kehidupanku tuk semua besi yang dibutakan klorida, aku merasa waktu akhirnya mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya..rasa disini Bumi. Aku memang terlambat.. enam tahun aku bergulat dengan titik yang sama, sesekali menoleh tapi selalu kembali pada titik itu seolah dia pusat gravitasi. Aku lelah mengaduh Bumi, dan aku bahagia karena akhirnya aku tahu dia datang bukan untuk menjadi pendampingku..tapi sebagai pelajaran agar tidak terlalu mudah memberikan rasa ini pada siapa saja yang datang. Entah mereka adalah pihak minoritas yang berniat untuk sekedar berkunjung atau bahkan memilih menetap. Aku tak bisa membedakan. Karena disini..masih menganga luka yang belum juga cukup dewasa untuk berkata “Hai kau sudah cukup tegar, tahukah kau?”
Mengenangnya seperti meneguk Green Tea Freeze, karena pada isapan pertama tidak sedikitpun rasa menghampiri pengecapmu tetapi setelah tegukan pertamamu akan kau rasakan bagaimana rasa sesungguhnya.
Aku merelakanmu detik itu..aku ingin melihat benih lain yang tidak enggan untuk tumbuh bersamaku. Benih yang membuat aku tersenyum lepas karena berhasil membuatnya tumbuh dengan asrinya. Maaf karena kesabaran ini berbatas.. maaf tak bisa menunggumu lebih jauh lagi. Mungkin aku hanya kurang bersabar..tapi kurasa ini cukup untukmu.
-penanam
Maaf..maaf karena tersadar begitu lama, sungguh jangan tinggalkan aku yang sekarang berjanji untuk tumbuh bersamamu, tumbuh dan memberikanmu berbagai rasa dari buahku. Maaf karena begitu ragu dan mempermainkan kegigihanmu merawatku. Bisakah kau kembali? Merawatku tanpa melihat benih-benih lain yang mungkin lebih baik dariku? Aku hanya ragu.. ragu apakah benar kau yang harus aku temui untuk menjadi pemanen pertamaku. Aku hanya ingin bermain denganmu sejenak tanpa berkalkulasi dengan waktu..aku tahu enam tahun kau masih berkutat denganku. Seperti aku berkutat denganmu.. hanya saja aku terlalu memegang teguh harga diriku untuk luluh ditangan dinginmu.
Kali ini aku memohon dengan sangat.. izinkan aku tumbuh bersamamu walau detik ini kau sama sekali tidak melihat adanya eksistensiku. Aku membutuhkanmu.. bisakah kau menunggu lebih sabar? Sebab aku ingin pulang.. karena kemanapun aku pergi, kaulah rumahku..tempat aku pulang dan bernaung. Bisakah?
-benih
“Beberapa insan memaafkan kesalahan yang sama berulang-ulang. Semata karena takut kehilangan.
Beberapa orang memilih bertahan, hanya karena mereka tidak tahu caranya pergi dan melepaskan.
Beberapa orang perlu dtinggalkan terlebih dahulu, untuk sekedar menghargai apa yang telah dimiliki.”
Dan sekarang aku paham benih..
-penanam
P.S : “ Thanks for accompanying me till this moment. Not directly but indirectly. You’re such a major of my mind. The only reason of my swing mood and the only reason to shed my tears. It’s time to say good bye for you. Thanks for the happiness, pains, and lessons which you have given to me. I let you go for your own happiness. If our way will be crossed. We will meet again. Trust me. Once again, thanks for had been my precious thing who I ever had. Good luck!

0 comments:

Post a Comment

now, you know my secrets